Jurnal Rekayasa Bahan Alam dan Energi Berkelanjutan https://rbaet.ub.ac.id/index.php/rbaet <p>Jurnal Rekayasa Bahan Alam dan Energi Terbarukan merupakan jurnal elektronik yang mempublikasikan hasil penelitian, knowledge sharing dari dosen, mahasiswa maupun kalangan industri yang berfokus pada teknologi kimia pengolahan bahan alam dan energi secara berkelanjutan. Jurnal ini terbit 2 kali dalam setahun bulan Maret dan September.</p><p>e-ISSN: <a href="http://issn.pdii.lipi.go.id/issn.cgi?daftar&amp;1478761305&amp;1&amp;&amp;">2548-2181</a> (media online)</p><p>p-ISSN: <a href="http://issn.pdii.lipi.go.id/issn.cgi?daftar&amp;1479345697&amp;1&amp;&amp;">2548-2300</a> (media cetak)</p> Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya en-US Jurnal Rekayasa Bahan Alam dan Energi Berkelanjutan 2548-2300 <p>Penulis yang naskahnya diterbitkan menyetujui ketentuan sebagai berikut:</p><ol><li>Hak publikasi atas semua materi naskah jurnal yang dipublikasikan dalam Jurnal RBAET ini dipegang oleh dewan redaksi dengan sepengetahuan penulis (hak moral tetap milik penulis naskah).</li><li>Ketentuan legal formal untuk akses artikel digital jurnal elektronik ini tunduk pada ketentuan lisensi <em><strong>Creative Commons <em>A</em>ttribution-ShareAlike</strong></em> (<a href="http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0" target="_blank">CC BY-SA</a>), yang berarti Jurnal RBAET berhak menyimpan, mengalih media/format-kan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat, dan mempublikasikan artikel tanpa meminta izin dari Penulis selama tetap mencantumkan nama Penulis sebagai pemilik Hak Cipta.</li><li>Naskah yang diterbitkan/dipublikasikan secara cetak dan elektronik bersifat <a href="http://www.budapestopenaccessinitiative.org/" target="_blank">open access</a> untuk tujuan pendidikan, penelitian, dan perpustakaan. Selain tujuan tersebut, dewan redaksi tidak bertanggung jawab atas pelanggaran terhadap hukum hak cipta.</li></ol><div> </div><div><a href="http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/" rel="license"><img src="https://i.creativecommons.org/l/by-sa/4.0/88x31.png" alt="Creative Commons License" /></a></div><div><span>Jurnal Rekayasa Bahan Alam dan Energi Berkelanjutan</span><span> is licensed under a </span><a href="http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/" rel="license">Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License</a><span>.</span></div><div> </div> Pengaruh Tegangan Elektrokoagulasi dan Konsentrasi Awal Pewarna terhadap Persentase Penyisihan Remazol Red RB https://rbaet.ub.ac.id/index.php/rbaet/article/view/83 <p>Limbah cair industri batik memiliki dampak buruk bagi lingkungan apabila langsung dibuang tanpa pengolahan. Meningkatnya produksi pada industri batik menyebabkan limbah cair yang dihasilkan juga semakin meningkat. Remazol Red Rb merupakan salah satu sumber polutan dari limbah cair dari proses pewarnaan pada industri batik. Metode konvensional untuk pengolahan limbah cair masih memiliki kekurangan sehingga memerlukan metode pengolahan limbah alternatif, yaitu metode elektrokoagulasi. Elektrokoagulasi merupakan proses destabilisasi koloid melalui proses elektrokimia. Proses elektrokoagulasi dilakukan dengan memvariasikan tegangan dan konsentrasi awal pewarna yaitu 10 volt, 15 volt, 20 volt, 25 volt pada konsentrasi 100 ppm, 150 ppm, 200 ppm, dan 250 ppm. Untuk mengetahui pengaruh tegangan dan konsentrasi awal pewarna maka dilakukan pengukuran terhadap penyisihan pewarna menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Proses elektrokoagulasi menggunakan aluminum sebagai anoda dan besi sebagai katoda. Penelitian dilakukan pada rangkaian elektroda monopolar seri pada volume limbah 200 mL selama 60 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tegangan dan konsentrasi awal mempengaruhi terhadap penyisihan pewarna pada limbah cair sintetis <em>Remazol Red RB</em><em>. </em>Tegangan listrik dan konsentrasi awal terbaik pada rentang variabel penelitian ini adalah 25 volt pada 100 ppm dengan persentase penyisihan sebesar 99,80% setelah10 menit elektrokoagulasi.</p> Ulfiana Ihda Afifa Anisa Hidayanti Bambang Ismuyanto Juliananda Juliananda Copyright (c) 2021 Jurnal Rekayasa Bahan Alam dan Energi Berkelanjutan 2021-12-31 2021-12-31 5 2 1 9 Metode Maserasi Berbantu Gelombang Ultrasonik untuk Ekstraksi Pigmen Merah-Ungu dari Enam Varietas Bayam Merah https://rbaet.ub.ac.id/index.php/rbaet/article/view/108 <p>Metode Maserasi Berbantu Gelombang Ultrasonik untuk Ekstraksi Pigmen Merah-Ungu dari Enam Varietas Bayam Merah. Pewarna alami banyak digunakan untuk memberikan warna pada makanan. Bayam merah merupakan tanaman yang cocok digunakan untuk memberikan warna merah karena keberadaannya melimpah. Maserasi merupakan metode ekstraksi yang masih digunakan saat ini karena pengoperasiannya mudah. Namun demikian, metode maserasi membutuhkan optimalisasi karena penggunaannya membutuhkan waktu yang lama. Ekstraksi berbantu gelombang ultrasonik digunakan untuk memendekkan waktu ekstraksi. Pada penelitian ini, ektraksi pigmen merah ungu menggunakan metode maserasi untuk enam varietas bayam merah telah dilakukan. Variasi perbandingan bayam merah dengan campuran larutan etanol 96% dan asam sitrat 10% adalah 1:7, 1:9, 1:11, dan 1:13. Absorbansi tertinggi untuk Delima, Abbang, Baret Merah, dan Mira diperoleh dari perbandingan massa/pelarut 1:7, sementara untuk Red dan Clara dari 1:9. Perbandingan massa/pelarut optimum untuk setiap varietas kemudian digunakan pada ekstraksi berbantu gelombang ultrasonik. Ekstraksi dilakukan pada 5, 10, dan 15 menit. Pada varietas Red, Abbang, Baret Merah, Mira dan Clara, absorbansi pigmen merah-ungu tertinggi didapatkan pada waktu 15 menit sementara Delima pada 5 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstraksi berbantu gelombang ultrasonik pada pigmen merah-ungu dari bayam merah lebih efektif daripada maserasi 24 jam.</p> Layta Dinira Novita Rosyida Eka Ratri Noor Wulandari Copyright (c) 2021 Jurnal Rekayasa Bahan Alam dan Energi Berkelanjutan 2021-12-31 2021-12-31 5 2 10 15 Synthesis of Chitosan Composite based on Black Soldier Fly (BSF) Exuviae with Kipahit Leaf Extract and its Inhibition Test against Xanthomonas Oryzae. https://rbaet.ub.ac.id/index.php/rbaet/article/view/111 <em>HDB disease caused by the bacteria Xanthomonas oryzae pv.oryzae (Xoo) is an important disease in rice plants. Recently, many organic based antibacterial agents are being developed, one of which is chitosan. One of the potential raw materials for producing chitosan is Black Soldier Fly (BSF) exuviae. During the development, chitosan was formulated with other ingredients such as kipahit leaves (Tithonia diversifolia). The purpose of this study is to synthesize BSF-based chitosan, formulate BSF-based chitosan composites with kipahit leaf extract using 0.1% sodium tripolyphosphate and test the antibacterial activity against Xanthomonas oryzae composites. The process of optimizing the extraction of kipahit leaves was carried out with a variety of solvents (2% acetic acid, 96% ethanol and 20% DMSO). The antibacterial activity test was carried out by the disc diffusion method at a concentration of 0.1; 0.2; 0.4; 0.6; 0.8 and 1% (w / v). The results showed that the best kipahit leaf extraction was obtained using 96% ethanol as a solvent. </em> Sri Wahyuni Ridha Fauziyah Muhammad Abdul Aziz Deden Dewantara Eris Haryo Tejo Prakoso Siswanto siswanto Priyono Priyono Copyright (c) 2021 Jurnal Rekayasa Bahan Alam dan Energi Berkelanjutan 2021-12-31 2021-12-31 5 2 16 23 Pengaruh Waktu Ekstraksi pada Pektin Ampas dan Kulit Buah Melon (Cucumis Melo L. var. Sky Rocket) https://rbaet.ub.ac.id/index.php/rbaet/article/view/112 <em>The purpose of this study was to determine the effect of extraction time on yield, methoxyl content and degree of esterification. In this study, the raw materials used are melon pulp and peel. The process of obtaining pectin from raw materials is reflux extraction with the extraction time of 60, 90, and 120 minutes using citric acid pH 2.5 as a solvent. The result shows pectin yield for each extraction time of 60, 90, and 120 minutes to be 4.16%, 11.91%, and 5.49% for melon pulp and 2.29%, 6.86%, and 3.57% for melon peel, respectively. Methoxyl content of pectin increases with increasing extraction time to be 2.05%, 3.41%, and 3.78% for melon pulp and 2.17%, 2.73%, and 3.72% for melon peel, respectively. Pectin esterification degree decreases with increasing extraction time to be 48.53%, 44%, and 33.52% for melon pulp and 46.67%, 39.29%, and 30.93% for melon peel, respectively. Methoxyl content value of &lt;7% and esterification degree of &lt;50% shows pectin obtained from this study is the low-methoxyl pectin.</em> Risang Parasu Ersa Amalia Aisyah Vivi Nurhadianty Luthfi Kurnia Dewi Copyright (c) 2021 Jurnal Rekayasa Bahan Alam dan Energi Berkelanjutan 2021-12-31 2021-12-31 5 2 24 30